Kisah Cinta Menyentuh Hati : "Janji Seorang Insan"
Assalamualaikum wr wb.
Sahabat.!!
Saya akan menceritakan sebuah kisah tentang cinta yang sangat menyentuh hati, bisa di bilang ini adalah cinta sejati.
Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang kawan lama yang biasa di sapa Rizal.
Rizal adalah teman sekolah saya dulu waktu di SMP, dan sudah hampir 12 tahun saya tidak pernah bertemu dengan dia.
Lalu kami mampir ke sebuah warung kopi, untuk saling berbincang sembari melepas rasa asing karena sudah 12 tahun lamanya tidak bertatap muka.
Kamipun berdua bersenda gurau, bernostalgia menceritakan masa-masa saat masih bersama.
Lalu pandangan saya tertuju pada jaket yang di kenakannya, jaketnya begitu lusuh dan warnanya hampir hilang karena memudar.
Berasa penasaran, sayapun bertanya :
"Zal..!! Kamu hidup sudah lumayan mapan, tapi kenapa kok jaket yang sudah jelek itu masih kamu kenakan."
Rizalpun menjawab :
"Jaket ini begitu berarti bagi saya, banyak sekali kenangan yang tidak mau saya lupakan dari jaket ini. Karena jaket ini adalah bukti janji saya kepada seseorang yang sangat saya cintai.
Coba dengarkanlah akan saya ceritakan sebuah kisah tentang jaket ini."
Rizalpun mulai bercerita...
7 tahun yang lalu, setelah aku dan kamu berpisah, karena kita berdua sama-sama telah lulus dari SMP, aku melanjutkan sekolah ke SMA.
Ketika awal masuk Masa Orienasi Siswa itulah awal aku mengenal seorang gadis yang bernama "Dian".
Dian adalah seorang gadis sederhana yang berhati mulia, seperti malaikat yang turun dari kahyangan. Tingkah lakunya anggun, tutur katanya mempesona dan dia sangat menjaga sekali kehormatannya sebagai wanita.
Dian ini adalah wanita yang sangat tulus, selalu membatuku dalam susah, selalu menghiburku di kala sedih dan selalu membuatku semangat kembali di saat aku hampir putus asa dan kehilangan harapan.
3 tahun di SMA aku dan dia selalu bersama, tak terasa ada sebuah rasa yang datang dalam hati, yang membuatku ketergantungan untuk selalu memandangi senyum di bibirnya dan lesung pipit di pipinya.
Namun rasa itu hanya aku simpan dalam hati, tak berani aku mengatakan nya. Karena aku takut menyinggung perasaan nya, apalagi sampai membuatnya sedih.
Mencintai dalam diam itulah caraku, kusebut namanya di dalam setiap Do'a ku. Semoga aku dan dia dapat berjodoh serta hidup bersama nanti.
Kami pun lulus SMA dan Melanjutkan study ke perguruan tinggi, dan kebersamaan kami berlanjut terus sampai kuliah karena aku dan dia masih satu Universitas.
Sekian lamanya bersama, tidak pernah satu kalipun kami bertengkar, karena dia selalu menjaga perasaanku dan aku pun mencoba untuk tidak menyinggung perasaan nya.
Cintaku padanya semakin hari semakin bertambah, tak pernah sedikitpun berkurang.
Hingga aku merasa ada sedikit perubahan pada dirinya, Dian yang ku kenal sangat rajin mulai terlihat sering tidak masuk. Dan ketika aku bertanya tentang itu, dia hanya menjawab dengan senyum riangnya.
Ku tau dia menyembunyikan sesuatu dariku, tapi aku berusaha untuk terus percaya padanya.
Suatu hari, setelah pulang kuliah Dian mengajaku pergi kesebuah taman yang di bawah nya ada danau yang sangat jernih dan indah. Sambil duduk dan memandang ke arah danau, dia membuka pembicaraan :
"A' tak terasa ya.!! Sudah hampir 7 tahun kita selalu bersama, dan selama itu pun kita belum pernah satu kalipun bertengkar.!!"
Aku tak menjawab, dan hanya memandang wajahnya yang terus melihat ke arah danau di depan nya.
Dan dia kembali berkata :
"A' aku tau apa yang aku rasakan ini mungkin sama dengan apa yang aa' rasakan sekarang, begitu indah dan tak sedikitpun ingin berlalu. Aku sengaja hari ini mengajak aa' kesini untuk mengatakan hal itu, bahwa sedari dulu aku mengagumimu dan lambat laun kagumku itu berubah cinta. Jadi aku ingin meminta satu hal dari aa'."
Rizal pun berkata :
"De..!! Sekiranya aa' boleh tau, memangnya apa yang mau Dian pinta dari aa'.?, Sekiranya Aa' bisa, pasti Aa berikan."
"Aku tidak meminta sesuatu yang berwujud, berbentuk atau apapun, aku hanya ingin minta satu hal saja dari aa' , yaitu : berjanjilah padaku, untuk jangan pernah melupakan aku."
Rizal pun kembali berkata :
Baiklah Aa' akan berusaha menepati janji, karena sedari lama aa' sudah menyimpan rasa ini, bahwa aa' sangat mencintaimu. Akan aa' buktikan cintaku dengan memegang janji ini."
Lalu Dian melepaskan jaket yang di kenakannya dan di beri berikan kepada Rizal :
"Simpanlah Jaket ini supaya aa bisa selalu ingat sama Dian"
Beberapa bulan berlalu setelah pertemuan itu, mendekati semester akhir.
Suatu hari Rizal terlihat sangat gelisah karena Dian sudah seminggu tidak masuk kuliah, dan ia terus betanya kepada teman-teman yang lain kabar tentang Dian.
Sambil duduk Rizal menatap dan memegang jaket yang di kenakan nya, dan ia berkata dalam hati :
"Kemanakah kamu Dian, sungguh keadaan ini sangat tidak mengenakan hati, semoga kamu baik-baik saja di manapun ia berada."
Tak lama kemudian terdengar suara handphone berbunyi. Rizal lalu mengambil ponselnya dan terlihat sebuah panggilan masuk dari nomer yang tidak ia kenal, yang ternyata itu adalah panggilan dari ibundanya Dian.
"Hallo, nak Rizal ya..!! Ini Ibu, Ibundanya Dian. Sebenar nya Dian sudah melarang ibu untuk menyampikan hal ini, namun hal ini sangat penting sekali untuk di ketahui oleh Nak Rizal, Sebelumnya ibu mau minta maaf yang sebesar-besarnya, karena apa yang akan ibu sampaikan ini mungkin akan menyakiti hati nak Rizal.
Sudah begitu lama Dian itu begitu mencintai nak Rizal, bahkan setiap malam ia selalu menceritakan tentang nak Rizal kepada ibu.
Ibu sangat bangga pada anak ibu, ia begitu kuat, namun nasibnya kurang beruntung. Semenjak ia di fonis kanker stadium akhir, ia sangat menderita namun ia selalu tersenyum dan tak pernah sedikitpun mengeluh. Tapi ia sudah tak kuat lagi, Dian tak bisa bertahan lagi, ia sudah meninggalkan kami semua, dan meninggalkan semua orang-orang yang mencintainya. Karena ia telah meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.
Jadi ibu mohon sama nak Rizal untuk berbesar hati mau memaafkan dan ikhlas menerimanya."
Dengan terbata-bata Rizal menjawab :
"Dian tidak pernah sekalipun berbuat salah, Dian tidak pernah sedikitpun menyusahkan saya. Justru saya yang inggin berterima kasih, karena Dian selalu membantu saya di saat saya sedang kesusahan."
Tanpa sadar air mata jatuh dari kelopak mata Rizal di akhir ia menutup cerita.
Aku kagum dan salut pada nya, Ia lelaki sejati yang teguh memegang janji.
"Walau yang di cinta telah mati, namun cintanya tak pernah mati"
Di akhir pertemuan kami ia nyeletuk :
"Brow, kamu juga harus janji ya. Jangan ceritain ini ke Istri saya, he he..!!"
Karena istri saya tidak tau kalo cinta pertamaku bukanlah dia. Tapi aku juga sangat menyayangi istriku yang mencintai ku apa adanya, dan menggantikan sosok Dian walaupun ia berbeda.
Itulah tadi sebuah kisah cinta yang sangat menyentuh hati. Semoga kisah tadi bermanfaat dan dapat memberikan sedikit inspirasi bagi kita semua.
Wassalamualaikum wr wb.
Sahabat.!!
Saya akan menceritakan sebuah kisah tentang cinta yang sangat menyentuh hati, bisa di bilang ini adalah cinta sejati.
Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang kawan lama yang biasa di sapa Rizal.
Rizal adalah teman sekolah saya dulu waktu di SMP, dan sudah hampir 12 tahun saya tidak pernah bertemu dengan dia.
Lalu kami mampir ke sebuah warung kopi, untuk saling berbincang sembari melepas rasa asing karena sudah 12 tahun lamanya tidak bertatap muka.
Kamipun berdua bersenda gurau, bernostalgia menceritakan masa-masa saat masih bersama.
Lalu pandangan saya tertuju pada jaket yang di kenakannya, jaketnya begitu lusuh dan warnanya hampir hilang karena memudar.
Berasa penasaran, sayapun bertanya :
"Zal..!! Kamu hidup sudah lumayan mapan, tapi kenapa kok jaket yang sudah jelek itu masih kamu kenakan."
Rizalpun menjawab :
"Jaket ini begitu berarti bagi saya, banyak sekali kenangan yang tidak mau saya lupakan dari jaket ini. Karena jaket ini adalah bukti janji saya kepada seseorang yang sangat saya cintai.
Coba dengarkanlah akan saya ceritakan sebuah kisah tentang jaket ini."
Rizalpun mulai bercerita...
7 tahun yang lalu, setelah aku dan kamu berpisah, karena kita berdua sama-sama telah lulus dari SMP, aku melanjutkan sekolah ke SMA.
Ketika awal masuk Masa Orienasi Siswa itulah awal aku mengenal seorang gadis yang bernama "Dian".
Dian adalah seorang gadis sederhana yang berhati mulia, seperti malaikat yang turun dari kahyangan. Tingkah lakunya anggun, tutur katanya mempesona dan dia sangat menjaga sekali kehormatannya sebagai wanita.
Dian ini adalah wanita yang sangat tulus, selalu membatuku dalam susah, selalu menghiburku di kala sedih dan selalu membuatku semangat kembali di saat aku hampir putus asa dan kehilangan harapan.
3 tahun di SMA aku dan dia selalu bersama, tak terasa ada sebuah rasa yang datang dalam hati, yang membuatku ketergantungan untuk selalu memandangi senyum di bibirnya dan lesung pipit di pipinya.
Namun rasa itu hanya aku simpan dalam hati, tak berani aku mengatakan nya. Karena aku takut menyinggung perasaan nya, apalagi sampai membuatnya sedih.
Mencintai dalam diam itulah caraku, kusebut namanya di dalam setiap Do'a ku. Semoga aku dan dia dapat berjodoh serta hidup bersama nanti.
Kami pun lulus SMA dan Melanjutkan study ke perguruan tinggi, dan kebersamaan kami berlanjut terus sampai kuliah karena aku dan dia masih satu Universitas.
Sekian lamanya bersama, tidak pernah satu kalipun kami bertengkar, karena dia selalu menjaga perasaanku dan aku pun mencoba untuk tidak menyinggung perasaan nya.
Cintaku padanya semakin hari semakin bertambah, tak pernah sedikitpun berkurang.
Hingga aku merasa ada sedikit perubahan pada dirinya, Dian yang ku kenal sangat rajin mulai terlihat sering tidak masuk. Dan ketika aku bertanya tentang itu, dia hanya menjawab dengan senyum riangnya.
Ku tau dia menyembunyikan sesuatu dariku, tapi aku berusaha untuk terus percaya padanya.
Suatu hari, setelah pulang kuliah Dian mengajaku pergi kesebuah taman yang di bawah nya ada danau yang sangat jernih dan indah. Sambil duduk dan memandang ke arah danau, dia membuka pembicaraan :
"A' tak terasa ya.!! Sudah hampir 7 tahun kita selalu bersama, dan selama itu pun kita belum pernah satu kalipun bertengkar.!!"
Aku tak menjawab, dan hanya memandang wajahnya yang terus melihat ke arah danau di depan nya.
Dan dia kembali berkata :
"A' aku tau apa yang aku rasakan ini mungkin sama dengan apa yang aa' rasakan sekarang, begitu indah dan tak sedikitpun ingin berlalu. Aku sengaja hari ini mengajak aa' kesini untuk mengatakan hal itu, bahwa sedari dulu aku mengagumimu dan lambat laun kagumku itu berubah cinta. Jadi aku ingin meminta satu hal dari aa'."
Rizal pun berkata :
"De..!! Sekiranya aa' boleh tau, memangnya apa yang mau Dian pinta dari aa'.?, Sekiranya Aa' bisa, pasti Aa berikan."
"Aku tidak meminta sesuatu yang berwujud, berbentuk atau apapun, aku hanya ingin minta satu hal saja dari aa' , yaitu : berjanjilah padaku, untuk jangan pernah melupakan aku."
Rizal pun kembali berkata :
Baiklah Aa' akan berusaha menepati janji, karena sedari lama aa' sudah menyimpan rasa ini, bahwa aa' sangat mencintaimu. Akan aa' buktikan cintaku dengan memegang janji ini."
Lalu Dian melepaskan jaket yang di kenakannya dan di beri berikan kepada Rizal :
"Simpanlah Jaket ini supaya aa bisa selalu ingat sama Dian"
Beberapa bulan berlalu setelah pertemuan itu, mendekati semester akhir.
Suatu hari Rizal terlihat sangat gelisah karena Dian sudah seminggu tidak masuk kuliah, dan ia terus betanya kepada teman-teman yang lain kabar tentang Dian.
Sambil duduk Rizal menatap dan memegang jaket yang di kenakan nya, dan ia berkata dalam hati :
"Kemanakah kamu Dian, sungguh keadaan ini sangat tidak mengenakan hati, semoga kamu baik-baik saja di manapun ia berada."
Tak lama kemudian terdengar suara handphone berbunyi. Rizal lalu mengambil ponselnya dan terlihat sebuah panggilan masuk dari nomer yang tidak ia kenal, yang ternyata itu adalah panggilan dari ibundanya Dian.
"Hallo, nak Rizal ya..!! Ini Ibu, Ibundanya Dian. Sebenar nya Dian sudah melarang ibu untuk menyampikan hal ini, namun hal ini sangat penting sekali untuk di ketahui oleh Nak Rizal, Sebelumnya ibu mau minta maaf yang sebesar-besarnya, karena apa yang akan ibu sampaikan ini mungkin akan menyakiti hati nak Rizal.
Sudah begitu lama Dian itu begitu mencintai nak Rizal, bahkan setiap malam ia selalu menceritakan tentang nak Rizal kepada ibu.
Ibu sangat bangga pada anak ibu, ia begitu kuat, namun nasibnya kurang beruntung. Semenjak ia di fonis kanker stadium akhir, ia sangat menderita namun ia selalu tersenyum dan tak pernah sedikitpun mengeluh. Tapi ia sudah tak kuat lagi, Dian tak bisa bertahan lagi, ia sudah meninggalkan kami semua, dan meninggalkan semua orang-orang yang mencintainya. Karena ia telah meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.
Jadi ibu mohon sama nak Rizal untuk berbesar hati mau memaafkan dan ikhlas menerimanya."
Dengan terbata-bata Rizal menjawab :
"Dian tidak pernah sekalipun berbuat salah, Dian tidak pernah sedikitpun menyusahkan saya. Justru saya yang inggin berterima kasih, karena Dian selalu membantu saya di saat saya sedang kesusahan."
Tanpa sadar air mata jatuh dari kelopak mata Rizal di akhir ia menutup cerita.
Aku kagum dan salut pada nya, Ia lelaki sejati yang teguh memegang janji.
"Walau yang di cinta telah mati, namun cintanya tak pernah mati"
Di akhir pertemuan kami ia nyeletuk :
"Brow, kamu juga harus janji ya. Jangan ceritain ini ke Istri saya, he he..!!"
Karena istri saya tidak tau kalo cinta pertamaku bukanlah dia. Tapi aku juga sangat menyayangi istriku yang mencintai ku apa adanya, dan menggantikan sosok Dian walaupun ia berbeda.
Itulah tadi sebuah kisah cinta yang sangat menyentuh hati. Semoga kisah tadi bermanfaat dan dapat memberikan sedikit inspirasi bagi kita semua.
Wassalamualaikum wr wb.


Comments
Post a Comment