Posts

Showing posts with the label Puisi

Puisi Chairil Anwar : "Senja Di Pelabuhan Kecil" dan "Cintaku Jauh Di Pulau"

Image
Senja di Pelabuhan Kecil Buat Sri Ayati Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap. Karya : Chairil Anwar Cintaku Jauh di Pulau Cintaku jauh di pulau Gadis manis, sekarang iseng sendiri Perahu melancar, bulan memancar di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar angin membantu, laut terang, tapi terasa aku tidak ‘kan sampai padanya Di air yang tenang, di angin mendayu di perasaan penghabisan segala melaju Ajal bertakhta, sambil berkata: “Tujukan perahu ke pangkuanku saja.” Amboi! Jalan sudah b...

Puisi Taufik Ismail : "Membaca Tanda-Tanda"

Membaca Tanda-Tanda Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan dan meluncur lewat sela-sela jari kita Ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas tapi kini kita mulai merindukannya Kita saksikan udara  abu-abu warnanya Kita saksikan air danau yang semakin surut jadinya Burung-burung kecil tak lagi berkicau pagi hari Hutan kehilangan ranting Ranting kehilangan daun Daun kehilangan dahan Dahan kehilangan hutan Kita saksikan zat asam didesak asam arang dan karbon dioksid itu menggilas paru-paru Kita saksikan Gunung memompa abu Abu membawa batu Batu membawa lindu Lindu membawa longsor Longsor membawa air Air membawa banjir Banjir membawa air air mata Kita telah saksikan seribu tanda-tanda Bisakah kita membaca tanda-tanda? Allah Kami telah membaca gempa Kami telah disapu banjir Kami telah dihalau api dan hama Kami telah dihujani abu dan batu Allah Ampuni dosa-dosa kami Beri kami kearifan membaca Seribu tanda-tanda Karena ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan...

Sedar dalam Sasar

Image
Sedar dalam Sasar Ana bersihkan kain bernoda dengan tinta Berharap hilanglah noda yang ada Sukar ana rasa menggilas Namun noda kecil kini tak tarbahas Bukan hilang tapi tertutupi tinta  Yang membuat kain semakin suram Andai kata noda adalah kesalahan Dan tinta adalah keburukan Ana tutupi sedikit kesalahan iku, Dengan keburukan yang kian lebat Gilasan pun hanya menjadi alat Yang semuanya menjadi berkarat Ana salah kaprah dan kiprah Menambah duka dengan luka Mencampur desak dengan sesak Sakit yang parah semakin perih Namun sasar ana berlalu sedar Dibukakan mata oleh rasa Memasrah pada maha pemurah Tuhan segala penentu titik cerah Pelepas segala rasa gelisah Kain yang hitam memang hitam Jika di basuh dengan tinta kian lebam Namun sedar itu seperti air Akan membersihkan kain yang lebam Menjadi bersih kembali Seperti baru di beri... Segala pasrah dari susah Setiap tabah dari lemah Semua ikhlas dari yang hilang Menjadi pembuka awal yang baru Menemui p...

Puisi Shahruk Khan Di Film Jab Tak Hai Jaan

Image
Jab Tak Hai Jaan ( Selama Aku Masih Hidup ) Mata nakal dan jahilmu Tawamu yang tak perduli Rambutmu yang selalu bergelombang Tak akan pernah ku lupa Selama aku masih hidup… Selama aku masih hidup… Tanganmu yang menghempaskan tangan ku Bayangan mu yang memalingkan pandangan Parasmu yang tak pernah melihat ke belakang Takan pernah ku maafkan Selama aku masih hidup… Selama aku masih hidup… Rasa tak malu mu menari di tengah hujan Rajukan mu untuk hal - hal kecil Kesalahan polosmu Akan selalu ku cinta Selama aku masih hidup… Selama aku masih hidup… Sumpah dan janji palsu mu Mimpi - mimpi yang kau hancurkan Kekejaman do’a mu Selalu aku benci Selama aku masih hidup… Selama aku masih hidup… By : Mayor Samar Anand        ( Jab tak Hai Jaan ) Info Lainnya : ~ Info lowongan Kerja ~ Kumpulan Cerita Inspiratif ~ Tips - Tips Seru Baca Juga :

Puisi Bung Karno : "Aku Melihat Indonesia"

Image
Aku Melihat Indonesia Jika aku berdiri di pantai Ngliyep Aku mendengar lautan Indonesia bergelora Membanting di pantai Ngeliyep itu Aku mendengar lagu - sajak Indonesia Jikalau aku melihat Sawah menguning menghijau Aku tidak melihat lagi Batang padi menguning - menghijau Aku melihat Indonesia Jika aku melihat gunung-gungung Gunung Merapi, gunung Semeru, gunung Merbabu Gunung Tangkupan Prahu, gunung Klebet Dan gunung-gunung yang lain Aku melihat Indonesia Jikalau aku mendengar pangkur palaran Bukan lagi pangkur palaran yang kudengarkan Aku mendengar Indonesia Jika aku menghirup udara ini Aku tidak lagi menghirup udara Aku menghirup Indonesia Jika aku melihat wajah anak-anak di desa-desa Dengan mata yang bersinar-sinar (berteriak) Merdeka! Merdeka!, Pak! Merdeka! Aku bukan lagi melihat mata manusia Aku melihat Indonesia! Karya : Bung Karno Info Lainnya : ~ Info Lowongan Kerja ~ Kumpulan Cerita Inspiratif ~ Tips - Tips Seru ~ Info Tentang Kesehatan Baca Juga :

Puisi Habibie Untuk Ainun

Image
Puisi Habibie Untuk Ainun Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu. Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi. Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini. Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. Mana mun...

Puisi Taufik Ismail : "Kembalikan Indonesia Padaku"

Halo sobat, Berikut ini adalah sebuah puisi dari seorang puitis terkenal di indonesia, yang namanya sudah tidak asing lagi di dengar. Ya, dia adalah Taufik Ismail. Berikut ini salah satu puisi dari beliau yang berjudul : " kembalikan Indonesia Padaku." Kembalikan Indonesia Padaku Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga, Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat, sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian, Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa, Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam karena seratus juta penduduknya, Kembalikan  Indonesia  padaku Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 wat, Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang-renang di atasnya, Hari depan Indo...